Kebijakan terhadap Digitalisasi di Sektor Jasa Keuangan Indonesia:

Pengaruhnya terhadap Akses Keuangan dan Perlindungan Data Pribadi

Download Materi

Di era percepatan digital berbagai sektor harus beradaptasi dengan cepat agar tidak tertinggal terutama sektor keuangan dan perbankan.  Sebelum pandemi covid, disrupsi industri perbankan telah terjadi.  Sebanyak 2.400 kantor cabang bank tutup pada 2019, dan hanya 1.100 pembukaan kantor cabang baru.  Hal ini menunjukkan adanya 1.300 kantor cabang bank yang hilang di tahun tersebut. Saat  pandemi, penelitian Indonesia Banking School memperlihatkan bahwa sektor perbankan dan keuangan termasuk sektor utama, dimana konsumen berubah ke arah digitalisasi. Selain itu, perkembangan inovasi di bidang financial technology juga mendorong sektor perbankan berubah menjadi bentuk digital yang lebih versatile. Istilah neobank merujuk pada bank digital yang tanpa cabang seolah menjadi jawaban akan perubahan yang saat ini terjadi. Saat ini di dunia ada total 170 neobank dimana 36 diantaranya di wilayah asia pasifik. Di Indonesia, jenis bank ini sudah mulai dirintis dengan nama bank digital.

Inovasi ini direspons oleh regulator agar menjamin iklim industri yang tetap sehat, aman, dan tentunya, berkesinambungan.  Otoritas Jasa Keuangan (OJK) bersama-sama dengan asosiasi perbankan menyusun cetak biru transformasi perbankan digital, meliputi aspek perlindungan data, kolaborasi antar institusi keuangan maupun non-keuangan, manajemen risiko, pemanfaatan teknologi, dan tata kelola kelembagaan (Bisnis.com, 9 April 2021).  OJK akan membagi bank digital menjadi dua jenis, yaitu: entitas baru yang beroperasi penuh sebagai bank digital, dan transformasi bank konvensional menjadi bank digital (Republika.id, 21 April 2021).  Regulasi ini akan berupa Peraturan Otoritas Jasa Keuangan (POJK), yang ditargetkan akan rampung di semester pertama 2021.  Salah satu komponen yang diatur dalam regulasi ini yaitu terkait persyaratan dalam mendirikan bank digital. Untuk mendirikan bank digital, OJK akan melakukan asesmen dari sisi model bisnis, teknologi, tata kelola perusahaan dan IT, manajemen risiko IT, kompetensi SDM hingga rencana bisnis.