29 Januari 2016

Peran Akuntan dalam Meminimalisir Risiko Fraud Pada Lembaga Keuangan

Pada tanggal 17 Oktober 2015 Himpunan Mahasiswa (HIMA) Akuntansi Indonesia Banking School mengadakan Accounting Goes To IBS (AGTI). Acara ini merupakan Seminar rutin tahunan, pada setiap tahunnya mengalami peningkatan yang signifikan dengan peningkatan peserta setiap tahunnya. Pada tahun ini target peserta yang mencakupi mahasiswa dari D3 hingga S1 dari kampus-kampus seluruh Indonesia. Acara ini terselenggara sudah keenam kali dari 2009.

 



Acara AGTI ini membahas “Peran Akuntan dalam Meminimalisir Risiko Fraud pada Lembaga Keuangan”. Dalam hal ini lembaga keuangan yang sangat sensitif akan menimbulkan beragam resiko yang harus disadari.




Lembaga Keuangan merupakan institusi yang sangat sensitif, timbulnya beragam risiko merupakan hal penting yang harus disadari. Risiko fraud merupakan salah satunya, sebagai lembaga yang berisiko tinggi, Lembaga Keuangan membutuhkan proteksi terhadap risiko tersebut. Regulator telah menetapkan kebijakan nasional anti-fraud dan masing-masing institusi memiliki kebijakan anti-fraud.

 



Bagaimana institusi-institusi tersebut menyelaraskan dengan kebijakan nasional dan Peranan seorang akuntan keuangan dalam menerapkan kebijakannya.

Beranjak dari pemikiran tersebut, Himpunan Mahasiswa (HIMA) Akuntansi Indonesia Banking School menyelenggarakan Seminar The 6th AGTI dengan tagline “Rather Failed with Honor than Succeed by Fraud”. Seminar ini fokus terhadap bagaimana akuntan pada lembaga keuangan dan regulator dalam melakukan tindakan untuk meminimalisir resiko fraud pada Lembaga Keuangan.

Pada sesi pertama membahas White Collar Crime & Strategi Kebijakan Nasional dalam Meminimalisir Risiko Fraud pada Lembaga Keuangan. Narasumber kali ini yaitu:

      • Ferdinand T. Andi Lolo S.H., L.L.M., Ph.D – Komisaris Kejaksaan Agung Republik Indonesia, Dosen Kriminologi Universitas Indonesia.
      • Bayu Wicaksono – Mahasiswa Kriminologi Semester Akhir Universitas Indonesia, Pendamping Bapak Ferdinand.
      • Patricia S.E., Ak, CA, CPA, CAMS, CFE. – Kepala Bagian Penelitian Standarisasi Akuntansi, Pelaporan dan Regulasi Perbankan, Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
      • Bey Arifianto Widodo, Ak, M.A., CFE. – Kepala Bagian Penelitian dan Pengembangan, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
      • Ariz Dedy Arham - Divisi Pendidikan dan Pelayanan Masyarakat, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).

 

Pembahasan materi membahas mengenai apa itu fraud secara teori yang dipaparkan oleh Bapak Ferdinand dan Saudara Bayu mengenai triangle of fraud, definisi fraud dan white collar crime, data-data statistik terjadinya fraud diberbagai bidang, dan lain-lain.


Kemudian dilanjutkan Ibu Patricia yang memaparkan peran dari Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sebagai pengawas dan regulator dalam hal microprudential demi meminimalisir resiko fraud pada lembaga keuangan. Pemaparan ini disertai data-data statistik lembaga keuangan di Indonesia.


Setelah pemaparan yang dilakukan Ibu Patricia, Kemudian dilanjutkan pemaparan Bapak Aziz dan Bapak Bey dari KPK yang menjelaskan bagaimana peran dari KPK sebagai lembaga independen negara yang sangat fokus dalam bidang fraud yang merupakan salah satu turunan dari tindak pidana korupsi.
Pada sesi kedua membahas Penerapan Kebijakan Nasional dalam Meminimalisir Risiko Fraud pada Lembaga Keuangan. Narasumber kali ini yaitu:

      • Rika B.Bus – Manajer Jasa Investigasi Kecurangan dan Perselisihan, Ernst & Young (EY).
      • K. Ridwan Nur S.E., M.M., CBA, CFE, QIA, CFrA. – Konsultan Akademi GRC Mandiri University, Bank Mandiri.
      • Indra Widjaja S.E., CFE, QIA, CIA, CISA, CISM, CRMP – Wakil Presiden ACFE Wilayah Indonesia, Association Certified Fraud Examiner (ACFE).

     Pada sesi ini lebih difokuskan mengenai bagaimana penerapan kebijakan nasional dari pihak user atau perusahan. Kemudian bagaimana memaksimalkan peran dari akuntan dan auditornya dalam melakukan pencegahan dari fraud itu sendiri.


Sebagai pembuka, Bapak Ridwan dari Bank Mandiri memaparkan bagaimana penerapan internal control yang dilakukan oleh Bank Mandiri dan juga memberikan contoh beberapa kasus kecurangan yang terjadi beserta penangannya.
Kemudian diskusi panel berlanjut pada pemaparan yang dilakukan oleh Ibu Rika dari Kantor Akuntan Publik (KAP) Ernst & Young. Menjelaskan bagaimana peran yang dilakukan oleh Ernst & Young sebagai auditor eksternal dalam mengaudit laporan keuangan yang merupakan tanggungjawab dari manajemen perusahan.  Sementara auditor eksternal hanya memberikan opini dari laporan keuangan tersebut dimana opini tersebut bersifat assurance bukan absolute. Sebuah laporan keuangan yang handal tercemin dari internal control dari perusahaan tersebut.


Wakil Presiden dari Association Certified Fraud Examiner(ACFE), yaitu Bapak Indra menutup sesi kali ini. Beliau memberikan pelatihan dan pendidikan tentang bagaimana pencegahan fraud dilakukan dan betapa pentingnya sertifikasi CFE sebagai penunjang karir sebagai auditor atau fraud examiner. Mengenai kasus-kasus yang sering ditemui beliau memaparkan data statistik secara terperinci mengenai kasus-kasus. Pemamparan yang diberikan memberikan contoh-contoh kasus yang nyata sehingga peserta dapat mengenal kecurangan-kecurangan yang pada kenyataannya tidak mudah untuk dihilangkan dan diditeksi.

 

 

 

 

 



Kembali