Pengembangan Ekonomi Syariah Berbasis Keumatan

Download Materi

Indonesia sebagai negara dengan penduduk muslim terbesar di dunia memiliki potensi tinggi untuk mengembangkan sektor ekonomi syariah. Sektor ekonomi syariah meliputi banyak industri seperti perbankan syariah, keuangan non bank, pasar modal, rumah sakit Islam, perhotelan, pariwisata, halal food, fashion dan masih banyak lagi. Berdasarkan laporan The State of The Global Islamic Economy 2020, Indonesia kini berada di posisi ke-4, meningkat dari posisi ke-5 di tahun 2019 dan tahun sebelumnya yang menempati posisi ke-10.

Sistem perekonomian syariah dapat menjadi alternatif dari sistem perbankan konvensional karena sistem ini mempunyai daya resistansi yang cukup kuat terhadap krisis keuangan global seperti sekarang. Sebagaimana yang disampaikan  Menteri Keuangan Sri Mulyani Indrawati menyampaikan kinerja perbankan syariah di Tanah Air mencatatkan pertumbuhan yang stabil, bahkan tumbuh lebih tinggi jika dibandingkan dengan perbankan konvensional di tengah pandemi Covid-19. “Yang cukup menarik dalam kondisi yang sangat menekan akibat Covid-19, intermediasi perbankan nasional cenderung mengalami penurunan, tapi kinerja perbankan syariah justru stabil dan tumbuh lebih tinggi dibandingkan bank konvensional,” [1]

Dari sisi aset, perbankan syariah mencatatkan pertumbuhan yang lebih tinggi, yaitu naik 10,97 persen secara tahunan, dibandingkan dengan bank konvensional yang pertumbuhannya tercatat sebesar 7,7 persen secara tahunan. Dana pihak ketiga (DPK) perbankan syariah pada periode yang sama tercatat tumbuh 11,56 persen secara tahunan, sedikit di atas kenaikan DPK bank konvensional yang sebesar 11,49 persen. Sementara dari sisi pembiayaan, bank syariah tumbuh 9,42 persen secara tahunan, jauh lebih tinggi dari bank konvensional yang hanya tumbuh 0,55 persen secara tahunan.

Dari sisi daya tahan pun, permodalan perbankan syariah juga cenderung stabil, dengan rasio kecukupan modal (capital adequacy ratio/CAR) tercatat pada level 23,5 persen dan rasio pembiayaan bermasalah (nonperforming financing ratio/NPF) sebesar 3,31 persen. Artinya kinerja perbankan syariah yang masih melaju positif meski di tengah krisis ini dapat dijadikan sebagai jembatan atau modal awal untuk terus mengembangkan ekosistem keuangan syariah yang berkualitas baik.