Tantangan Pengembangan Digital Talent di Perbankan
Oleh Prof. Dana S. Saroso, Pengamat Pengembangan Human Capital, Ketua STIE IBS
Dalam dua dekade terakhir, industri perbankan telah mengalami transformasi yang signifikan akibat perkembangan teknologi digital. Dari kemunculan fintech hingga layanan keuangan berbasis aplikasi, digitalisasi telah mengubah cara publik berinteraksi dengan layanan keuangan.
Kondisi ini tak pelak telah mendisrupsi hampir semua praktik bisnis dalam sektor keuangan dan memaksa pelaku industri perbankan menyesuaikan model bisnis mereka. Salah satu tantangan dihadapi oleh para pengelola perbankan adalah menyesuaikan kemampuan human capital (sumber daya manusia/SDM) agar memiliki kemampuan digital. Untuk tetap relevan dan kompetitif di era digital, penting bagi lembaga keuangan untuk mengembangkan digital talent tidak hanya memahami teknologi, tetapi juga mampu mengintegrasikannya dalam strategi bisnis yang inovatif.
Bank perlu memperhatikan faktor keterampilan human capital mereka dalam konteks pemanfaatan teknologi dalam menjalankan kegiatan bisnis. Hal itu dibutuhkan untuk menghadapi tuntutan konsumen, yang saat ini menginginkan layanan yang cepat, akurat serta nyaman.
Oleh karena itu sudah seharusnya bank memiliki strategi pengembangan SDM untuk menghasilkan personil bank dengan literasi digital yang baik. Perencanaan dan pengembangan SDM perlu dilakukan secara terstruktur dan sistematis dengan rencana penerapan teknologi digital di sektor perbankan. Dengan adanya literasi digital yang baik, setiap pegawai harus memiliki kompetensi sebagai seorang digital talent.
Semua pegawai harus memiliki pengetahuan dan kemampuan dalam memanfaatkan teknologi digital, baik secara sistem maupun penggunaan perangkat atau platform digital untuk mendukung proses layanan finansial. Hal ini penting agar industri perbankan memiliki SDM dengan kompetensi digital yang akan mampu meningkatkan kecepatan layanan dan menghasilkan berbagai inovasi dalam menghadapi perubahan model bisnis global.
Seorang Auditor misalnya, tidak cukup hanya memahami akuntansi, manajemen risiko, atau auditing. Mereka juga harus memahami pengetahuan tentang mata uang kripto, dasar-dasar keamanan siber (cybersecurity), data science, hingga cloud computing.
Hal ini penting karena seorang Sarjana Akuntansi yang bekerja sebagai Financial Analyst harus mampu melakukan financial modelling dengan menggunakan aplikasi Business Intelligence dengan mengintegrasikan data keuangan pada seluruh platform digital. Seorang Auditor harus mengetahui beberapa hal terkait protokol keamanan, antara lain enkripsi, autentikasi, dan firewall, serta kepatuhan terhadap peraturan perlindungan data termasuk data digital.
Untuk itu ada dua aspek yang harus diperhatikan oleh seluruh stakeholder dalam mengembangkan digital talent. Pertama, diperlukan adanya kolaborasi yang intensif dengan Perguruan Tinggi dengan industri. Kolaborasi tersebut harus terdiri dari tiga tahapan penting, pada saat awal perancangan kurikulum, pada pelaksanaan atau implementasi dari kurikulum (pengajaran dan penelitian), dan pada saat evaluasi efektivitas kurikulum dalam memenuhi kebutuhan industri.
Kedua, untuk memastikan lulusan perguruan tinggi sesuai dengan kebutuhan industri perbankan, maka diperlukan pengembangan keterampilan dan pengetahuan dasar yang dibutuhkan dengan pendekatan pendidikan yang fleksibel. Hal ini meliputi shifting dalam merancang kurikulum, metode belajar, serta model pembelajarannya. Penggabungan ilmu pengetahuan melalui Hybrid Knowledge menjadi sangat penting bagi setiap lulusan perguruan tinggi pada era digital ini.
Dalam menghadapi tantangan dan peluang di era digital, pengembangan digital talent di sektor perbankan menjadi suatu kebutuhan yang mendesak. Perguruan tinggi dan industri perbankan bukan membeli mahasiswa dengan keterampilan yang diperlukan agar mereka dapat berkontribusi secara signifikan dalam industri. Kolaborasi yang kuat antara lembaga pendidikan dan industri perbankan dapat menciptakan sumber daya manusia yang tidak hanya siap menghadapi tantangan, tetapi juga mendorong inovasi dan pertumbuhan di masa depan. Hanya dengan cara ini, lembaga perbankan dapat memenangkan persaingan dan tetap relevan di era digital yang terus berkembang.
Sumber Artikel : https://online.flipbuilder.com/Majalah_Stabilitas/rbfa/

Get Social