April 9, 2026

Jakarta, 9 April 2026 – Peran humas di perguruan tinggi saat ini mengalami transformasi yang sangat signifikan. Jika sebelumnya humas lebih dikenal sebagai fungsi pendukung yang berfokus pada publikasi dan penyebaran informasi, kini perannya berkembang menjadi elemen strategis dalam membangun kepercayaan publik, menjaga reputasi institusi, serta menjembatani komunikasi antara kampus dengan berbagai stakeholder di era digital yang semakin dinamis.

Perubahan ini tidak terlepas dari perkembangan teknologi informasi, transformasi ruang publik digital, serta meningkatnya ekspektasi masyarakat terhadap transparansi dan akuntabilitas institusi pendidikan tinggi. Humas dituntut tidak hanya mampu menyampaikan pesan, tetapi juga memahami dinamika opini publik, mengelola isu secara tepat, serta menghadirkan komunikasi yang relevan dan berdampak.

Menjawab tantangan tersebut, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia (Kemdiktisaintek) berkolaborasi dengan BINUS University menyelenggarakan Program Tendik Berdampak – Penguatan Kompetensi dan Profesionalisme 2026 bidang Pranata Humas. Program ini dilaksanakan pada 7–9 April 2026 di Jakarta, dengan melibatkan 51 tenaga kependidikan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia yang telah melalui proses seleksi.

Program Tendik Berdampak merupakan bagian dari upaya strategis pemerintah dalam meningkatkan kualitas sumber daya manusia di lingkungan pendidikan tinggi. Dengan jumlah tenaga kependidikan di Indonesia yang mencapai sekitar 30.000 orang, program ini menyeleksi 385 peserta terbaik dari berbagai bidang, termasuk 51 pranata humas. Hal ini menunjukkan bahwa penguatan kapasitas humas menjadi salah satu prioritas dalam mendukung transformasi pendidikan tinggi di Indonesia.

Dalam sambutannya, Menteri Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi Republik Indonesia, Prof. Brian Yuliarto, S.T., M.Eng., Ph.D., menekankan bahwa pendidikan tinggi tidak hanya dituntut unggul secara administratif, tetapi juga harus mampu memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Kita tentu sama-sama memahami bahwa ke depan, kita ingin memastikan bahwa pendidikan tinggi Indonesia tidak hanya baik secara administratif, tetapi benar-benar memberikan dampak nyata bagi lingkungan sekitar, masyarakat, dan bangsa Indonesia. Untuk mencapai itu, kita membutuhkan sistem yang kuat, layanan yang cepat dan responsif, serta sumber daya manusia yang profesional dan memiliki semangat untuk terus belajar,” ujarnya.

Lebih lanjut, beliau berharap melalui program ini tidak hanya terjadi transfer pengetahuan, tetapi juga lahir praktik-praktik baik yang dapat diimplementasikan secara langsung di institusi masing-masing. Selain itu, terbentuknya jejaring kolaborasi antar tenaga kependidikan juga diharapkan dapat memperkuat ekosistem pendidikan tinggi yang saling mendukung dan berkembang secara berkelanjutan.

Program ini dirancang dengan pendekatan pembelajaran yang komprehensif, menggabungkan berbagai metode seperti webinar, workshop intensif, praktik langsung, serta benchmarking dengan praktik terbaik di industri. Peserta tidak hanya dibekali dengan pemahaman konseptual, tetapi juga keterampilan praktis yang relevan dengan kebutuhan komunikasi di era digital.

Materi yang diberikan mencakup berbagai aspek penting dalam kehumasan modern, seperti perencanaan komunikasi strategis, pengelolaan media relations, teknik storytelling yang efektif, serta manajemen isu dan krisis. Selain itu, peserta juga diajak untuk memahami pentingnya pemanfaatan platform digital dalam membangun citra institusi yang kuat dan kredibel.

Salah satu fokus utama dalam program ini adalah memperkuat peran humas sebagai “jembatan strategis” antara institusi dan publik. Dalam konteks ini, humas tidak lagi hanya berfungsi sebagai penyampai informasi satu arah, tetapi sebagai pengelola komunikasi dua arah yang mampu memahami kebutuhan stakeholder sekaligus menyampaikan nilai, visi, dan keunggulan institusi secara efektif.

Humas juga diharapkan mampu memberikan insight strategis kepada manajemen kampus, khususnya dalam membaca tren, memahami kebutuhan pasar, serta mengantisipasi potensi isu yang dapat memengaruhi reputasi institusi. Dengan demikian, humas memiliki peran penting dalam mendukung pengambilan keputusan yang lebih responsif dan berbasis data.

Selain itu, peserta juga diajak untuk memahami bahwa reputasi institusi tidak hanya dibangun dari apa yang terlihat di permukaan, tetapi juga dari pengalaman nyata yang dirasakan oleh mahasiswa dan stakeholder lainnya. Reputasi ibarat gunung es—yang terlihat hanya sebagian kecil, sementara yang menentukan justru berada di bawah permukaan.

Dalam konteks ini, salah satu peserta dari STIE Indonesia Banking School (IBS), Lovita Fillyand, S.I.Kom., M.M., menyampaikan refleksinya,
“Sebagai bagian dari humas perguruan tinggi, saya melihat bahwa peran kami hari ini tidak lagi hanya sebatas publikasi, tetapi sudah menjadi bagian dari strategi institusi. Kegiatan ini membuka perspektif bahwa humas harus mampu menjembatani kebutuhan stakeholder dengan apa yang dilakukan kampus, sekaligus memastikan bahwa apa yang dikomunikasikan benar-benar selaras dengan pengalaman nyata yang dirasakan.”

Ia juga menambahkan bahwa penguatan kapasitas melalui program ini menjadi motivasi untuk terus berkembang, baik dari sisi praktik maupun akademik.
“Adanya peluang pengembangan diri, termasuk beasiswa ke depan, menjadi dorongan bagi saya untuk terus meningkatkan kompetensi, sehingga dapat memberikan kontribusi yang lebih strategis dan berdampak bagi institusi,” tambahnya.

Pada akhir kegiatan, dilakukan pemilihan peserta terbaik sebagai bentuk apresiasi terhadap partisipasi aktif dan capaian selama program berlangsung, sementara Lovita Fillyand, S.I.Kom., M.M. dari STIE Indonesia Banking School (IBS) meraih Terbaik 2.

Melalui program ini, Kemdiktisaintek menegaskan komitmennya dalam mendorong penguatan peran tenaga kependidikan, khususnya pranata humas, sebagai agen perubahan di lingkungan pendidikan tinggi. Ke depan, humas diharapkan tidak hanya mampu menjaga reputasi institusi, tetapi juga menjadi bagian dari transformasi yang membawa perguruan tinggi Indonesia menjadi lebih adaptif, transparan, dan berdampak.

Dengan penguatan kompetensi yang berkelanjutan, serta dukungan kolaborasi antar institusi, peran humas diyakini akan semakin strategis dalam meningkatkan daya saing perguruan tinggi di tingkat nasional maupun global.

Categories

Archives

Share This Story, Choose Your Platform!

Go to Top