Oleh: Anna Sardiana, S.I.P., M.Si., Ph.D
Wakil Ketua Bidang Non-Akademik Indonesia Banking School
Merefleksi hari kesehatan mental sedunia, 10 Oktober kemarin, ada sesuatu yang menarik sekaligus mengusik dari kehidupan manusia belakangan ini.
Diantara kemajuan teknologi, kemudahan akses informasi, dan semakin terbukanya kesempatan untuk berkembang, kita justru semakin sering mendengar cerita tentang kelelahan hidup di media sosial.
Bukan sekadar lelah fisik, tapi kelelahan yang sulit dijelaskan.
Ketika seseorang terus bekerja, memenuhi tanggung jawab, dan mengejar berbagai target, lalu perlahan mulai mempertanyakan makna dari semua yang dilakukannya.
Ada pekerja yang penghasilannya hampir habis untuk kebutuhan dasar.
Ada generasi muda yang merasa semakin sulit mencapai kestabilan finansial.
Ada pula sandwich generation yang harus membagi sumber daya untuk anak sekaligus orang tua.
Sementara itu, sebagian orang yang terlihat mapan dan berhasil pun tidak selalu terbebas dari kelelahan batin.
Fenomena ini menunjukkan bahwa kelelahan manusia ternyata memiliki banyak dimensi.
Ada yang lelah karena tekanan ekonomi, ada yang terkuras oleh tanggung jawab, dan ada pula yang mulai kehilangan hubungan antara apa yang dikerjakan dengan apa yang dianggap bermakna.
Namun, tidak semua orang yang lelah berarti kehilangan makna.
Terkadang seseorang justru sangat memahami alasan kenapa ia harus terus berjuang, tapi beban yang dipikul jauh lebih besar daripada sumber daya yang dimilikinya.
Sehingga tidak semua lelah muncul karena manusia kurang mampu mengelola kehidupan.
Terkadang, kehidupan memang menuntut terlalu banyak dari manusia.
Pemahaman ini hadir melalui perjalanan hidup dan berbagai tanggung jawab yang mempertemukan saya dengan beragam karakter, kepentingan, harapan, dan cara pandang manusia.
Ada banyak hal yang secara teori terlihat sederhana, tetapi menjadi kompleks ketika berhadapan dengan kenyataan.
Keputusan yang menurut kita rasional belum tentu dipahami dengan cara yang sama.
Kadang, niat baik tidak selalu menghasilkan penerimaan.
Bahkan sesuatu yang dianggap adil oleh satu pihak mungkin dipandang berbeda oleh pihak lainnya.
Dari pengalaman tersebut, bagi saya mengelola persoalan bukan hanya tentang menemukan solusi, tetapi juga tentang memahami manusia, termasuk diri sendiri.
Pemikiran ini mengingatkan saya pada Abraham Maslow.
Kita mengenalnya melalui hierarki kebutuhan manusia.
Ternyata Maslow juga mengembangkan gagasan tentang Being-values atau B-values.
Dimana Ia membedakan kebutuhan yang muncul karena kekurangan (deficiency needs atau D-needs), seperti kebutuhan dasar, keamanan, penerimaan, dan penghargaan, dengan orientasi pertumbuhan yang berkaitan dengan nilai-nilai keberadaan.
B-values mencakup nilai seperti kebenaran, kebaikan, keadilan, keutuhan, dan kebermaknaan.
Maslow juga menggunakan istilah metamotivation untuk menggambarkan dorongan manusia yang berorientasi pada nilai-nilai tersebut.
Secara sederhana, D-needs membantu manusia bertahan hidup, sedangkan B-values membantu manusia menemukan makna dalam kehidupannya.
Keduanya bukan tahapan yang harus selalu dilalui secara berurutan.
Seseorang yang masih berjuang memenuhi kebutuhan dasar tetap dapat menemukan makna.
Sebaliknya, terpenuhinya kebutuhan material tidak otomatis menghadirkan ketenangan.
Bagi saya, gagasan ini menarik karena mengajak kita mempertanyakan kembali ukuran keberhasilan hidup.
Kita terbiasa mengejar pencapaian, posisi, pengakuan, dan berbagai ukuran keberhasilan yang terlihat.
Namun, apakah semakin banyak yang kita capai selalu membuat kita lebih tenang?
Apakah bertambahnya pengalaman otomatis menjadikan kita lebih bijaksana?
Rasanya tidak sesederhana itu.
Pengalaman dan pembelajaran merupakan dua hal berbeda.
Kita dapat mengalami banyak persoalan tanpa benar-benar belajar darinya.
Kita bisa memiliki pengetahuan luas, tetapi tetap sulit mendengarkan.
Kita dapat mencapai posisi tertentu, tetapi masih membutuhkan pengakuan atas setiap keputusan.
Sebaliknya, seseorang yang telah melalui banyak kesulitan dapat tumbuh menjadi pribadi yang lebih tenang, terbuka, dan penuh empati.
Sehingga, barangkali kedewasaan bukanlah ketika seseorang merasa telah memahami segalanya, melainkan ketika ia menyadari betapa banyak hal yang masih perlu dipahami.
Selain itu, kita tahu bahwa tidak semua persoalan memiliki penyelesaian yang memuaskan semua orang.
Kita dapat berusaha mengambil keputusan secara objektif, tetapi tidak dapat mengendalikan bagaimana orang lain menerimanya.
Kita dapat menjelaskan maksud dengan baik, tetapi tidak dapat memastikan semua orang memahaminya.
Memahami orang lain bukan berarti harus selalu menyetujui.
Mendengarkan bukan berarti memenuhi seluruh harapan.
Dan berempati tidak berarti mengabaikan prinsip.
Di sinilah pentingnya membedakan tanggung jawab dengan keinginan mengendalikan segalanya.
Bertanggung jawab berarti melakukan bagian kita sebaik mungkin.
Namun, mengendalikan seluruh keadaan, termasuk respons orang lain, merupakan tuntutan yang tidak realistis.
Pada akhirnya perlu pemahaman bahwa tidak semua persoalan harus dimenangkan.
Sebagian perlu diselesaikan, sebagian perlu dipahami, dan sebagian lainnya perlu diterima.
Penerimaan bukan berarti menyerah.
Kita tetap perlu memperjuangkan perubahan, memperbaiki ketidakadilan, dan mencari jalan keluar.
Namun, kita juga perlu mengenali batas kemampuan serta memahami kapan membutuhkan bantuan.
Hal ini penting karena pembicaraan tentang ketahanan mental terkadang terlalu menekankan tanggung jawab individu.
Seolah setiap persoalan dapat diselesaikan dengan berpikir positif, lebih bersyukur, atau mengubah pola pikir.
Padahal, seseorang yang menghadapi tekanan ekonomi, tanggung jawab keluarga, atau beban pekerjaan berlebihan mungkin membutuhkan lebih dari sekadar nasihat.
Ia membutuhkan dukungan nyata, kesempatan untuk beristirahat, dan lingkungan yang lebih memahami.
Menjadi kuat bukan berarti harus mampu menanggung semuanya sendirian.
Semakin jauh perjalanan hidup, kesadaran bahwa tidak semua hal yang bermakna harus terlihat sebagai pencapaian.
Makna dapat hadir ketika kita membantu seseorang, berusaha bersikap adil, tetap menjaga integritas dalam keadaan sulit, atau mengakui kesalahan tanpa merasa kehilangan harga diri.
Hal-hal tersebut mungkin tidak menghasilkan penghargaan.
Bahkan sering kali tidak diketahui siapa pun.
Namun, bukan berarti tidak bernilai.
Sebagai manusia, kita perlu terus belajar.
Belajar memahami manusia, mengelola harapan, menerima perbedaan, dan membedakan apa yang dapat diubah dengan apa yang perlu diterima.
Tentu ada rasa lelah, kecewa, atau terus memikirkan persoalan yang belum selesai bergelung seolah tak kunjung usai.
Diantaranya, ketenangan tidak harus menunggu semua itu selesai.
Sehat secara mental bukan berarti tidak pernah sedih, takut, atau kehilangan arah.
Kedewasaan bukan berarti selalu kuat.
Dan kehidupan yang bermakna bukan berarti kehidupan yang selalu membahagiakan.
Kita tetap manusia yang memiliki keterbatasan, membutuhkan dukungan, dan terus belajar dari pengalaman.
Pada akhirnya, mungkin hidup bukan hanya tentang seberapa banyak yang berhasil kita capai, tetapi juga tentang bagaimana perjalanan tersebut membentuk diri kita.
Apakah pengalaman membuat kita semakin mampu memahami?
Apakah tanggung jawab menjadikan kita lebih bijaksana?
Apakah kekecewaan mengurangi empati kita, atau justru memperluas cara kita memandang manusia?
Saya percaya bahwa kedewasaan bukanlah ketika hidup menjadi lebih sederhana, melainkan ketika cara kita memahami kehidupan menjadi lebih luas.
Sehingga, mungkin pertanyaan terpentingnya bukan lagi, “Kapan semua masalah ini akan selesai?”
Tapi, “Diantara semua yang sedang saya jalani, manusia seperti apa yang sedang saya bentuk dalam diri saya?”
Karena hidup bukan sekadar bertahan, tetapi juga tentang belajar, bertumbuh, dan menemukan makna dalam perjalanan. Dan kita akan terus belajar.(*)
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Antara Bertahan dan Bertumbuh, https://makassar.tribunnews.com/opini/1853976/antara-bertahan-dan-bertumbuh?page=4.
Editor: Abdul Azis Alimuddin


Get Social