Oleh: Anna Sardiana, S.I.P., M.Si., Ph.D
Wakil Ketua Bidang Non-Akademik Indonesia Banking School
Membaca tulisan “Logika Kolonial dalam Peneliti(an)” yang terbit di kolom opini Tribun Timur pada Sabtu 19/9, saya tertarik dengan pertanyaan seorang pemuda yang menjadi pembuka tulisan tersebut: “Terus apa gunanya risetmu ini untuk kami?” Pertanyaan sederhana.
Tetapi menjawabnya tidak sesederhana itu.
Menyikapi dampak riset bagi masyarakat tempat penelitian dilakukan, menurut saya, tidak sama dengan menagih janji kampanye politikus.
Ketika masa pemilu datang, janji disampaikan.
Ketika terpilih, publik tentu punya alasan bertanya kapan janji itu direalisasikan.
Penelitian tidak bekerja dengan logika seperti itu.
Bahwa ketika sebuah riset selesai dilakukan, kemudian dampaknya harus langsung dirasakan oleh masyarakat tempat penelitian tersebut dilakukan.
Tidak selalu demikian.
Penelitian pada dasarnya adalah proses pengembangan ilmu pengetahuan.
Karenanya, dampak penelitian tidak selalu dapat dilihat seketika ketika penelitian selesai.
Ia membutuhkan waktu.
Bisa satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan puluhan tahun.
Tergantung bagaimana pengetahuan tersebut berkembang, bertemu dengan penelitian lain, dikritik, diuji kembali, lalu melahirkan pengetahuan baru.
Secara sederhana, lihat saja berbagai teknologi yang kita nikmati hari ini.
Membaca tulisan “Logika Kolonial dalam Peneliti(an)” yang terbit di kolom opini Tribun Timur pada Sabtu 19/9, saya tertarik dengan pertanyaan seorang pemuda yang menjadi pembuka tulisan tersebut: “Terus apa gunanya risetmu ini untuk kami?” Pertanyaan sederhana.
Tetapi menjawabnya tidak sesederhana itu.
Menyikapi dampak riset bagi masyarakat tempat penelitian dilakukan, menurut saya, tidak sama dengan menagih janji kampanye politikus.
Ketika masa pemilu datang, janji disampaikan.
Ketika terpilih, publik tentu punya alasan bertanya kapan janji itu direalisasikan.
Penelitian tidak bekerja dengan logika seperti itu.
Bahwa ketika sebuah riset selesai dilakukan, kemudian dampaknya harus langsung dirasakan oleh masyarakat tempat penelitian tersebut dilakukan.
Tidak selalu demikian.
Penelitian pada dasarnya adalah proses pengembangan ilmu pengetahuan.
Karenanya, dampak penelitian tidak selalu dapat dilihat seketika ketika penelitian selesai.
Ia membutuhkan waktu.
Bisa satu tahun, lima tahun, sepuluh tahun, bahkan puluhan tahun.
Tergantung bagaimana pengetahuan tersebut berkembang, bertemu dengan penelitian lain, dikritik, diuji kembali, lalu melahirkan pengetahuan baru.
Secara sederhana, lihat saja berbagai teknologi yang kita nikmati hari ini.
Saya sepakat bahwa masyarakat tidak semestinya hanya menjadi sumber data.
Datang, diwawancarai, difoto, direkam, diukur, lalu peneliti pulang membawa data.
Setelah itu terbit artikel, mendapatkan hibah, memperoleh angka kredit, naik jabatan akademik, sementara masyarakat yang menjadi sumber pengetahuan tidak pernah tahu apa yang terjadi dengan informasi yang mereka berikan.
Ada problem etika di sana yang perlu kita refleksikan.
Namun, bagi saya persoalannya mungkin bukan semata-mata “logika kolonial”.
Ada persoalan lain yang lebih mendasar: untuk apa kita melakukan penelitian? Pertanyaan sederhana, tetapi mungkin tidak mudah dijawab.
Bagaimana sebuah penelitian berkontribusi terhadap ilmu pengetahuan sering kali justru tidak dipahami dengan baik oleh penelitinya sendiri.
Akibatnya penelitian dilakukan sekadar memenuhi formalitas dan persyaratan.
Mahasiswa meneliti karena harus lulus.
Dosen meneliti karena harus memenuhi BKD.
Peneliti mengejar publikasi karena membutuhkan angka kredit.
Publikasi dibutuhkan untuk kenaikan jabatan.
Jabatan diperlukan untuk karier.
Kemudian ada hibah, insentif, remunerasi, dan seterusnya.
Tidak ada yang salah dengan semua itu.
Masalahnya muncul ketika sesuatu yang seharusnya menjadi ekses dari aktivitas keilmuan berubah menjadi tujuan utama aktivitas keilmuan itu sendiri.
Riset kemudian menjadi persoalan mengumpulkan “poin dan koin.”
Di situlah menurut saya masalah penelitian kita jauh lebih serius.
Interpretasi hasil penelitian akhirnya hadir tanpa makna dan tanpa esensi.
Kesimpulan ditulis karena sebuah artikel membutuhkan kesimpulan.
Implikasi dibuat karena jurnal meminta implikasi.
Research gap dicari karena sebuah penelitian harus punya gap.
Semuanya lengkap.
Tetapi kita lupa bertanya: so what?
Apa sebenarnya pengetahuan baru yang kita hasilkan?
Apa yang berubah dari pemahaman kita setelah penelitian ini dilakukan?
Di sinilah kematangan berpikir, kemampuan memahami, memaknai, dan menginterpretasikan sebuah temuan menjadi semakin penting.
Bahkan, dalam pandangan saya, kemampuan seperti ini justru mulai menjadi “elit” dalam dunia penelitian.
Sebagai peneliti, kita semakin mahir menggunakan tools, tetapi belum tentu semakin dalam memahami apa yang kita teliti.
Gelar, Karier, dan Validasi Sosial
Ada dimensi lain yang menurut saya juga perlu direfleksikan.
Gelar dan karier akademik tanpa disadari dapat berubah menjadi bentuk lain dari validasi sosial.
Orang berbondong-bondong mengejar gelar, publikasi, jabatan akademik, dan berbagai atribut yang menyertainya.
Ironis? Mungkin.
Tetapi itulah sebagian realitas komunitas akademik kita hari ini.
Tentu saja tidak semuanya.
Banyak peneliti dan akademisi yang bekerja dengan dedikasi luar biasa.
Karenanya, saya sengaja mengatakan: oknum(s).
Padahal sejatinya mereka yang berada dalam dunia ilmu pengetahuan—peneliti, ilmuwan, guru, dosen, dan sejenisnya—sejak dulu sudah mempunyai posisi tersendiri di masyarakat.
Dalam kaidah religi bahkan disebut bahwa orang-orang berilmu “diangkat derajatnya”.
Artinya, kehormatan itu pada dasarnya datang bersama ilmu dan kemanfaatannya, bukan semata-mata dari gelar, jabatan, apalagi materi.
Karena itu, publikasi, jabatan akademik, penghargaan, maupun manfaat finansial seharusnya ditempatkan sebagai ekses, bukan esensi.
Esensinya tetap ilmu pengetahuan.
Jadi, Kolonialkah?
Karenanya, bagi saya, “logika kolonial” mungkin kurang pas jika digunakan untuk menjawab pertanyaan mengenai dampak penelitian semata-mata karena masyarakat belum merasakan manfaat langsung setelah penelitian selesai.
Persoalannya bisa jadi bukan kolonial atau tidak kolonial.
Bisa jadi ini persoalan intensi. Mengapa kita meneliti?
Tentu peneliti tetap mempunyai tanggung jawab etis kepada masyarakat.
Komunitas tidak semestinya hanya dipandang sebagai “tambang data”.
Jika memungkinkan, hasil penelitian perlu dikomunikasikan kembali.
Temuan perlu diterjemahkan dalam bahasa yang mudah dipahami.
Dan ketika penelitian memang dirancang untuk menghasilkan intervensi atau perubahan sosial tertentu, maka dampaknya tentu patut dievaluasi.
Tetapi jangan pula kita menjanjikan sesuatu yang memang tidak dapat dijanjikan oleh penelitian.
Sebab sebuah penelitian mungkin hanya menghasilkan satu temuan kecil.
Temuan kecil itu dibaca peneliti lain.
Dikritik.
Diuji ulang.
Direplikasi.
Digabungkan dengan temuan lainnya.
Lalu lahir teori baru.
Dari teori berkembang teknologi.
Dari teknologi berkembang inovasi.
Sepuluh, dua puluh, bahkan tujuh puluh tahun kemudian, masyarakat menikmati hasilnya.
Tanpa pernah mengenal siapa orang yang pertama kali mengajukan pertanyaannya.
Menjadi Angin atau Menjadi Jejak
Karena itu, membaca “Logika Kolonial dalam Peneliti(an)”, saya melihatnya terutama sebagai ajakan untuk melakukan refleksi terhadap intensi kita sendiri ketika melakukan penelitian.
Apakah penelitian dilakukan semata untuk menyelesaikan kewajiban akademik?
Untuk mengejar gelar?
Untuk memperoleh angka kredit?
Untuk mendapatkan hibah?
Untuk mengejar “poin dan koin”? Atau kita benar-benar sedang berusaha menambahkan—meskipun sangat kecil—sesuatu kepada bangunan besar ilmu pengetahuan?
Pada akhirnya, setiap peneliti mempunyai pilihan.
Kita dapat menjadi seperti hembusan angin: datang, terasa sebentar, kemudian berlalu.
Atau menjadi satu titik kecil dalam perjalanan panjang ilmu pengetahuan.
Mungkin nama kita kelak tidak diingat. Mungkin hasil penelitian kita tidak langsung mengubah kehidupan siapa pun hari ini.
Tetapi pengetahuan yang kita tinggalkan dapat menjadi pijakan bagi seseorang untuk menemukan sesuatu yang lebih berarti di kemudian hari.
Dan barangkali di situlah makna terdalam dari dampak sebuah penelitian.
Semacam jariah pengetahuan sepanjang masa.
Sebab dampak ilmu pengetahuan tidak selalu datang hari ini.
Kadang ia datang jauh setelah penelitinya pergi.
Artikel ini telah tayang di Tribun-Timur.com dengan judul Dampak Riset Tidak Selalu Datang Hari Ini, https://makassar.tribunnews.com/opini/1851365/dampak-riset-tidak-selalu-datang-hari-ini?page=4.
Editor: Abdul Azis Alimuddin

Get Social